Jakarta, kabarindonesia.net — BILA serimonial dianggap sebagai penghargaan, maka Indonesia menjadi negara nomor 1 di dunia yang menghargai setiap momen sejarah dan keyakinan orang.

Adalah 2 contoh nyata, dimana Imlek dan Hari Santri diperingati setiap tahun di negeri ini. Bedanya, Imlek dijadikan Hari Besar sehingga kemudian jadi Hari Libur Nasional, sedangkan Hari Santri tetap bekerja dan beraktivitas perkantoran dan pabrik.

“Sayangnya kita hanya senang berindah-indah dengan artifisial, bukan yang substansial. Sehingga bangsa ini terkesan gemar akan simbol belaka. Padahal jauh dari kenyataan, karena ternyata perhatian negara terhadap Santri masih jauh dari apa yang seharusnya mereka terima, “Kata Sekjen Gerakan Advokat dan Aktivis (GAAS) Suta Widhya SH, Kamis (22/10/2020) sore di Jakarta.

Harapan Suta hendaknya pemerintah lebih memberikan perhatian bagi para Santri yang tengah menimba ilmu di pondok – pondok pesantren yang ada di seluruh tanah air. Mereka hendaknya 100% biaya hidupnya ditanggung oleh negara.

“Bukankah kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh para ulama dan Santri yang mengikuti Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng Hadratusyaikh KH M. Hasyim Asyhari?” Tanya Suta.

Menurut Aktivis ini Bangsa ini berjuang bukan oleh persenjataan modern. Tapi, oleh kekuatan iman para ulama dan Santri yang memakai bambu rancing dan senjata rampasan dari tentara Jepang. Meletusnya perang 10 Nopember 1945 akibat Jenderal Inggris dari Tentara Sekutu yang tewas misterius oleh siapa hingga hari ini.

“Namun demikian sangat jelas jasa ulama yang mengajarkan para Santri tidak dapat disangkal lagi dalam setiap pertempuran di seluruh tanah air dalam mempertahankan kemerdekaan. Adalah sebuah kedurhakaan politik bila elemen ulama dan Santri bila diabaikan,” tutup Suta. (Bamsoer)