Penajam Paser Utara — Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap potret demografis terbaru Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui Pendataan Penduduk IKN (PPIKN) Tahun 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa ibu kota baru Indonesia ini didominasi oleh penduduk usia produktif dan kalangan muda, namun masih menghadapi sejumlah tantangan serius, terutama di sektor kesehatan dan infrastruktur dasar.
Penduduk IKN berjumlah 147,43 ribu jiwa yang tersebar dalam 43.293 rumah tangga. Mayoritas penghuninya berasal dari kelompok Generasi Z dan Milenial, yang secara keseluruhan membentuk 67,91% penduduk usia produktif. Bahkan, penduduk tertua di IKN tercatat seorang perempuan berusia 108 tahun asal Makassar, Sulawesi Selatan.
BPS mencatat IKN sebagai wilayah dengan struktur penduduk muda dan mobilitas tinggi. Namun, di balik potensi bonus demografi, terdapat persoalan ketimpangan infrastruktur, sanitasi, serta angka kematian ibu dan bayi yang masih relatif tinggi.
Data ini dihimpun melalui Pendataan Penduduk IKN (PPIKN) Tahun 2025 yang dilakukan BPS sebagai dasar perencanaan pembangunan ibu kota baru.
Wilayah IKN mencakup sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara. Kepadatan penduduk tertinggi tercatat di Desa Telemow, Samboja Kuala, Muara Jawa Ulu, dan Muara Jawa Pesisir, dengan kepadatan lebih dari 400 jiwa per kilometer persegi.
Tingginya konsentrasi penduduk usia produktif disebabkan oleh arus migrasi dan peran IKN sebagai pusat pertumbuhan baru. Sebanyak 41,16% penduduk lahir di luar wilayah IKN, sementara 6,03% merupakan pendatang baru dalam lima tahun terakhir. Migran terbesar berasal dari Kalimantan Timur (29,20%), Sulawesi Selatan (20,36%), dan Jawa Timur (12,91%).
Secara sosial, rasio ketergantungan IKN berada di angka 47,25, artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 47–48 penduduk nonproduktif.
Di sektor kesehatan, BPS mencatat angka kematian bayi 14–15 per 1.000 kelahiran, serta angka kematian ibu 143 per 100.000 kelahiran. Selain itu, terjadi fenomena underachieved fertility, di mana angka kelahiran total (2,14) lebih rendah dibandingkan jumlah anak yang diinginkan perempuan (2,59).
Sementara itu, tantangan infrastruktur masih nyata. Data geotagging BPS menunjukkan:
0,54% rumah tangga masih beralaskan tanah,
1,22% penduduk masih mengandalkan air hujan untuk konsumsi,
Ratusan keluarga belum memiliki sanitasi layak,
Puluhan rumah belum teraliri listrik.
Penutup
Meski digadang sebagai kota masa depan yang modern dan berkelanjutan, data BPS menunjukkan bahwa pembangunan IKN masih memerlukan perhatian serius terhadap pemerataan layanan dasar, khususnya di wilayah padat penduduk. Bonus demografi yang dimiliki IKN menjadi peluang besar, namun hanya akan optimal jika diiringi dengan pembangunan infrastruktur dan layanan publik yang inklusif.























